Selangorkini
SASTERA

Perempuan, sihirku

Jalang mata api, kau resap darahku seperti
aku memasuki tubuhmu kelmarin; menghapus
bisa semburat. Merasai kekeringan dengan
tunas lidahku yang hangus dengan mata
kabur, tak melihat di mana kau gantungkan
air jampi ayat-ayat palsu untuk diteguk keras;
membohongiku lagi dan lagi.

Senyummu kuntum mawar di taring serigala;
aku tetap akan mengulit cermat belahan
garis-garis bibirmu; waktu ia basah, ketika ia kering.
Kulitmu, di permukaan tanganku terasa mulus
sekali gus dingin logam, menyeramkan.

Apakah kau sedang mengingatkan aku
kepada tuhanku, atau sedang ingin
memandang ke dalam diriku yang telanjang?
Benjolan di lehermu sempat aku rawati
tetapi doaku tak didengar; akan kau bawa
naik ke ranjang beradu ini malam.

Aku ingin melekapkan tanganku ke tubuhmu;
merayap perlahan membawa luka yang belum
pernah kau rasakan. Tetapi untuk membayangkan itu saja
aku takut; berundur untuk nanti akan datang lagi melihatmu
dalam mimpi. Keningmu adalah dahan rapuh tempat orang
sepertiku menggantung diri sebagai korban.

Aku dalam jiwamu, penghuni randuk racun.

Hafiz Hamzah


Pengarang :