Selangorkini
BUDAYA RENCANA

Aci sembunyi

Oleh A’riff Mustaffa Hamzah

Ilustrasi Matarojit

5, 4, 3, 2, 1…

Sudah atau belum?

Kita sepasang anak kecil yang belum selesai bermain aci sembunyi. Usai hitungan, aku berlari ke sini-sana mencari kemungkinan. Barangkali yang lainnya telah senyap-senyap pulang untuk menuntut janji makan malam di restoran kota, atau risau badan bakal berbirat lantaran pulang melangkahi batas senja. Barangkali sedari mula, hanya kita berdua. Mereka ialah teman-teman imaginari yang menjelma dari sunyi.

Pada waktu begini, aku terus mencarimu dan masih saja kutemui patung kayu yang sengaja disorok entah siapa di sebalik semak, pohon, batu, tangga, jendela, pintu – namun kelibatmu belum terlihat meski segaris bayang di kaki atau cahaya dari selendang birumu. 

Ah, apakah jingga atau ungu? Aku hanya dapat meneka warna pakaian, juga rambut dan matamu.

Dan – adakah kaudengar dengus nafas juga tap-tap-tap dari jingkit langkahku? Tuhan, alangkah beruntung diri andai deria telingaku dapat menangkap debar jantungnya yang sedang bersembunyi. 

Sebentar, aku sedang memburumu, tetapi tak kutahu apa namamu, bagaimana rupamu – mata, telinga, hidung, bibir, kulit – segalanya tentangmu, kabur. Aku memburu dan mencari tanpa ada tanda pasti selain keinginan tiada tara untuk menemuimu di suatu ruang.

Lampu-lampu menyala. Burung-burung melayang ke sarang. Siang ditawan senja, kau belum ada depan mata. Dari jihat yang entah mana, ledak suara menerajang jaring mega, memanggil-manggil namaku. Ibu. Kuheret pulang bau rumput bercampur lumpur yang melekat pada seluar sesudah dihambat rotan dan suaranya. Sesekali kutoleh ke kanan kiri, memercik sedikit harapan bertemumu, sementara ia sekadar menunda kecewa.

Malam itu, sehabis makan dan seisi rumah kembali bungkam di kamar sendiri, sepi mengurung kamar kecilku. Aku terlentang di ranjang. Kipas semakin usang, bising dan menakutkan, seakan bakal jatuh lantas mengisar tubuhku. Dinding adalah kotak misteri yang memantul segala bunyi seni – titis air dari sinki tandas, erang peti ais yang gigih mengeringkan kasut sekolah, nyanyi hantu di jurai angsana, perlumbaan jarum pada litar jam meja – selebihnya sunyi yang merebak dan menjangkiti ruang sebelum hujan luruh dari langit langsung merebas ke tanah.  

Dalam kesendirian seorang pemburu, getar jantungmu tetap tiada terdengar. Aku menanti jejak yang mungkin tiba-tiba muncul di lantai kamar, tetapi hampa.

Permainan kita belum selesai. Aku tahu itu hingga terus-terusan terganggu oleh pencarianku yang gagal tadi petang. Aku tak ingin berkongsi resah kepada sesiapa. Tidak kepada kakak. Tidak juga kepada ibu atau nenda. Aku cuma anak kecil jujur yang berhati-hati menyembunyikan gelisah di bawah bantal tidur, berharap ia akan pupus hapus bersama waktu.

Kutilik bintang kamar, berkira-kira tempat yang mungkin adanya engkau seorang diri dalam gelap – ketakutan, menanti ditemukan. Di pinggir hutan, di manor terbiar, di gudang lama – semua tempat itu mengembangkan bimbang dalam dadaku. Aku tak ingin kau dibinasakan oleh kejahatan manusia. 

Adakah kau telah pulang ke rumah serentak dengan teman-teman imaginariku? Tetapi hatiku kuat mengatakan kau masih bersembunyi di suatu ruang yang tidak kulalui atau tak sempat kulewati, dan harapnya kau sejahtera di situ, hingga sampai saatnya aku memenangi permainan ini.

Kita sepasang anak kecil yang belum selesai bermain aci sembunyi, meski lewat begini – meski aku telah hilang hitungan waktu, kecuali kiraan yang masih saja berlangsung, sesekali ganti-berganti dengan suara yang bukan milikku.

Aku tenggelam dalam buih mimpi lalu terlentang di tengah lautan bunga. Sempadannya tak terlihat. Tiada sesiapa selain aku serta seinfiniti lili lelabah merah. Sekuntum kupetik dan kudekatkan ke dada. Harumnya bermukim di deria, mencanduiku dalam ruang tanpa batas waktu.

5, 4, 3, 2, 1…

Sudah atau belum?

10, 9, 8, 7, 6…

Sebilah suara membelah warna bunga – lembut, tenang, keanak-anakan. Ia datang dari sebatang pohon maple berdiri teguh di padang merah darah. Aku berlari menujunya, melangkahi kuntum-kuntum lili. Suara semakin jelas sewaktu aku mendekat, tetapi tubuhku tersedut semula ke dalam buih-buih mimpi berlatar hitam pekat.

Setelah mata terbuka, aku di kamarku semula tanpa sempat aku lihat siapa sang pemilik suara yang mengira riang dan penuh harap di balik pohon yang mengguyurkan daun jingganya itu. 

Ketika fajar menjalar, sejambak harum mekar di kamar –  mirip yang kuhidu dalam tidur. Ia nyata dan berbau asli. Petunjuk menujumu sudah tentu, satu-satunya. Tanpa nama, rupa juga rahsia yang sedikit pun tak terbuka, mencarimu hampir mustahil, kecuali takdir menentukan sebaliknya – dan bau ini ialah takdir yang ditunggu-tunggu. 

Mendiamlah di situ. Aku akan tiba sebentar lagi.

Aku berguling turun dari ranjang, merangkak dan menapak dan berjalan dan berlari dan berlari dan berlari lagi menuruti bau yang melentok di udara, menyusuri lembah, padang dan kota, menjelma sebagai remaja, bertukar dewasa lalu dibelit serabut dunia hingga akhirnya kupulang semula ke rumah asalku, di pintu kamar yang kutinggalkan tadi – atau bertahun lalu – atau, waktu telah menyesatkan aku dalam selirat labirinnya.

Pintu kamar dibuka dengan keinginan yang menggegar indera. Susunan katil, almari dan figura yang menghiasi meja masih seperti dulu meski telah berdebu dan bersawang.

Aku kini di hadapan cermin, melihat tubuhku yang kembali anak, dan dari pantulan diri, ada seseorang yang lain. Aku melangkah masuk ke dalam kaca itu, memasuki dimensi keterbalikan duniaku. Aneh dan asing, tetapi mengirim rasa akrab dalam masa yang sama.

Terlihat kelibat gadis kecil di suatu penjuru di dalam cermin kamar.  Suara dan bau itu seperti yang kuburu selama ini. Ternyata kau tidak bersembunyi – bukan juga aku. Kau sedang menekup mukamu, menutur angka sepuluh sampai satu yang kauulang jutaan kali. Waktu bergelung dalam kiraanmu. Cukup, kekasih. Ke marilah. Aku telah ada di sini.


Pengarang :