BUDAYA RENCANA

Desah sebuah puisi

Aku meniduri sebuah puisi, ketika
bulan kenangan masih meminjam
cahaya dari mentari impian,
dan botol-botol seksa
bergelimpangan di tepi katil.
Desah-desahnya berselang seli
dengan jerit katil,
tilam tersipu-sipu berbicara
“usah deklamasi terlalu berjiwa,”
namun puisi masih terbawa-bawa.
Puisi menjerit-jerit lagi,
mendesah, bulan mengalir darah,
ketika mentari impian semakin tinggi,
namun sinarnya tidak pernah masuk
ke bilik ini.
Aku tahu mentari impian
dilumuri darah-darah bulan kenangan.

 

Zamhari Bakti
Kota Samarahan


Pengarang :