BUDAYA RENCANA

Tubuh yang pecah menjadi catatan

 

Keberadaanmu masih lagi di sekitarku, kubiar berlegar sampai di kertas yang separuh terbakar. Biar, kuperkenalkan kepada jagat tentang sesuatu yang paling rahsia — dengan tulisan serong, menerjah di kepala orang-orang lebih sulit berbanding rencong.

Jariku lekas dan berani, menanggal persalinan temaram dari tubuhmu. Kutulis engkau, manisku sedang telanjang di ranjang kata-kata. Lalu kupecah-pecahkan tubuhku menjadi sabda dan suara; aku menggaulimu di dalam catatanku. Malam ini aku ingin menjadi segalanya kecuali diri sendiri.

Beberapa babak romantis melompat keluar dari kitab pertualangan. Dilumuri angan, kucatat perbuatanku sendiri memetik bulan dari dada kananmu, lantas mencumbui kejora di dada kirimu. Kakimu meronyokkan semesta; sembari aku, menendang matahari lebih jauh.

Sengaja, ku perlewatkan siang, memanjat di alis bukan pada waktu kebiasaan. Biar kau sempat beristirahat setelah kita selesai bergulat. Atau sejujurnya, aku cuma mahu mencatat setiap posisi tidur kesukaanmu, lalu kususun satu persatu menjadi buruj yang akan kekal untuk beberapa tahun lagi, menuntun kembara dengan wajah asli.

Tanpa niat meninggalkan ranjang, kucatat lapang pejammu sedang menungguku di dalam sebuah mimpi; kita bertemu di kota, saling berbagi sentuh lantas kata pun mengembalikan sebahagian hatiku. Kita mengalir begitu, sehingga tanganku tak mampu lagi menunda malam.

Sehingga waktu curang, renda cahaya menyapa di sebalik tirai. Catatanku menjadi puisi yang merawat sendiri luka, lalu sesumbar. Tubuhku kembali tersusun seperti sediakala, lalu mengumbar. Belum pun sempat kulipat catatan tadi, aku malah terpaku melihatmu indah didandan pagi.

 

Jed Stellarose
Lumut


Pengarang :